Kolaborasi observasi gerhana bulan total serentak di Indonesia yang di ikuti oleh beberapa kampus yaitu UIN Walisongo Semarang, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, UIN Alauddin Makassar, UIN Gus Dur Pekalongan, UIN Imam Bonjol Padang, UIN Mataram, Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara, dan Ma’had aly Kudus. Serta diikuti beberapa komunitas Astronomi di Indonesia seperti Balla Falak Makassar, Walisongo Astronomical Community, Komunitas Falak UIN Ponorogo, Astronomi Amatir Makassar.

Adapun pengamat dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon ialah tim Lab. Falak Fakultas Syariah yang diwakili oleh Rizal Ramadhan M.H & Rifki Muslim, M.H. Hadir pula Pak Syaoqi Nahwandi, M.HI.I mewakili Dosen Ilmu Falak. Serta diikuti oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Gerhana bulan total terjadi ketika seluruh bayangan umbra Bumi jatuh menutupi Bulan, sehingga Matahari, Bumi, dan Bulan berada tepat di satu garis lurus.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai gerhana bulan total:
-
Warna Kemerahan (Blood Moon): Meskipun berada di bayangan Bumi, Bulan tidak menjadi gelap total. Atmosfer Bumi membiaskan cahaya matahari dan hanya meneruskan spektrum warna merah ke permukaan Bulan, sehingga Bulan tampak berwarna merah tembaga.
-
Syarat Terjadi: Fenomena ini hanya bisa terjadi saat fase Bulan Purnama.
-
Durasi: Gerhana bulan total bisa berlangsung cukup lama, biasanya antara 30 menit hingga lebih dari satu jam untuk fase totalitasnya saja.
-
Keamanan: Berbeda dengan gerhana matahari, gerhana bulan total sangat aman dilihat langsung dengan mata telanjang tanpa alat bantu atau filter khusus.
Fenomena ini merupakan salah satu pemandangan astronomi yang paling indah karena perubahan warna Bulan yang dramatis di langit malam.
